Mengenai Saya

Foto Saya
Putra semata wayang yang terlahir pada 24 Agustus 1992. Mengawali pendidikan di TK Siwipeni di tahun 1995, TK Aisyiyah Bustanul 'Athfal di tahun 1996. Berlanjut pada jenjang sekolah dasar di SDN Gayamsari 02-05 pada tahun 1998, SMP N 9 Semarang di tahun 2004, SMA N 2 Semarang di tahun 2007, dan saat ini tengah menjalani pendidikan di Universitas Diponegoro Semarang , mengonsentrasikan minat pada Ilmu Sejarah di Fakultas Ilmu Budaya.

Sabtu, 25 Februari 2012

MENELISIK Wayang Kulit sebagai Seni Tradisi Adiluhung Nusantara








A.        Sejarah dan Perkembangan Wayang Kulit
            Nenek moyang bangsa Indonesia, beberapa puluh tahun sebelum masehi telah mengenal wayang, yaitu suatu bentuk pentas –sebagai sarana upacara keagamaan yang bersifat ritual- dengan menggunakan bayang-bayangan (wayang) dalam membawakan acara-acaranya. Sedang bangsa Hindu menemukan wayang sebagai suatu wadah untuk membawakan cerita Mahabharata atau Ramayana dalam menyebaluaskan ajaran agamanya. Kemudian terjadilah suatu perpaduan yang amat serasi antara kedua kebudayaan yang berasal dari Hindu dan yang asli dari Indonesia, sehingga sampai dewasa ini wayang dengan cerita dari Hindu itu (Mahabharata dan Ramayana) sanggup menyesuaikan diri dengan perkembangan sejarah bangsa Indonesia.
            Lambat laun seni pewayangan di Indonesia berkembang menurut selera dan kebutuhan masyarakat penggemarnya, sehingga terciptalah berbagai macam bentuk dan berbagai ragam ceritanya dari wayang Menak, wayang Suluh hingga wayang Wahyu di samping seni tradisional lainnya yang ada kaitannya dengan seni pewayangan tersebut.
            Seni pewayangan (termasuk di dalamnya seni pedalangan) merupakan salah satu bentuk seni budaya klasik tradisional bangsa Indonesia yang adhiluhung (bernilai tinggi), mengandung nilai hidup dan kehidupan luhur, yang dalam setiap akhir cerita atau lakon-nya selalu memenangkan kebaikan dan mengalahkan kejahatan. Hal itu, mengandung suatu ajaran, bahwa perbuatan baiklah yang akan unggul, sedang perbuatan jahat akan selalu menerima kekalahannya.

B.        Unsur-Unsur Seni dalam Pewayangan
            Seni pewayangan sedikitnya mengandung tujuh (7) unsur seni, yakni:
1.      Seni Drama
Melalui seni drama dapat kita ketahui dan hayati makna kefalsafahan yang dalam dari setiap cerita atau lakon wayang yang bersifat klasik seperti cerita Dewa Ruci dari epos Mahabharata, yang mengisahkan Werkudara ketika berguru pada Dewa Ruci mengenai ilmu kesempurnaan dan kemudian diperintahkan untuk masuk ke dalam badannya. Cerita tersebut memberikan gambaran, bahwa kejiwaan manusia lebih luas daripada dunia dengan segala isinya.
2.      Seni Lukis Atau Seni Rupa
Seni lukis atau seni rupa yang dapat dilihat dari bentuk wayang, sunggingan dan tata warnanya yang masing-masing warna mewakili simbol kejiwaan tersendiri, antara lain: bentuk wayang yang menunjukkan karakter atau watak dari tokoh wayang tersebut dengan sunggingan yang serasi, komposisi warna yang sempurna, sehingga tidak mengacaukan padngan dan menyelaraskan jiwa bagi mereka yang melihatnya. Sebagai contoh, untuk busana (kain) tokoh wayang Arjuna ataupun Kresna tidak akan disungging dengan corak Kawung ataupun Parang Rusak, karena kedua tokoh tersebut merupakan tokoh adhiluhung bagi seniman-seniman pencipta wayang.
3.      Seni Tatah (Pahat) Atau Seni Kriya
Seni pahat atau seni kriya yang dapat disimak dari wujud wayang yang dibuat dari kulit kerbau atau sapi atau kayu, melalui proses yang lama dan memerlukan ketekunan, rumit tapi rapi. Dalam seni pahat atau seni kriya tersebut terdapat beberapa jenis pahatan dan tatahan, antara lain; pahatan atau tatahan untuk pedalangan (wayang pedalangan) agar dalam pementasan dengan sinar lampu dapat nampak terlihat jelas ukirannya , dan ada pula pahatan atau tatahan kasar yang ditujukan untuk komersial.
4.      Seni Sastra
Seni sastra yang dapat didengar dari bahasa pedalangan yang begitu indah dan menawan hati. Bahasa pedalangan untuk daerah Jawa Tengah dan Jawa Timut pada umumnya digunakan bahasa menurut tata bahasa Jawa dengan menggunakan idiom Kawi yang menimbulkan rasa luhur dan angker, unggah-ungguh dalam penggunaan bahasa seperti ngoko, ngoko alus, tengahan, krama, krama inggil, kedatonan, kadewan, dan bahasa bagongan. Sementara untuk pergelaran wayang kulit ataupun wayang golek Sunda biasanya dipergunakan bahasa Sunda dengan penggunaan kata-kata Kawi yang dianggap sakral dan luhur. Tentunya Antawacana dan janturan pedalangan wayang golek di daerah Jawa Barat pada umumnya tidak sama dan tidak berpedoman pokok seperti standar pedalangan Jawa Tengah; Surakarta dan Yogyakarta.
5.      Seni Suara
Seni suara yang kita tangkap dalam setiap pergelaran wayang, dikumandangkan secara ngerangin oleh para wiraswara (penyanyi) dan swarawati (pesindhen) serta ki dalang, yang diiringi dengan perpaduan bunyi gamelan dengan alunan dan irama lagu yang begitu indah. Bagi seorang dalang, seni suara dengan vokal yang mantap merupakan syarat utama dalam mempertahankan mutu pergelarannya, selaras dengan nada atau irama gamelan karena suara tokoh wayang berpedoman pada seni karawitan. Semisal volume suara Prabu Duryudana lain dengan volume suara Arjuna, berbeda pula dengan nada (laras) untuk tokoh Yudhistira atau tokoh-tokoh wayang lainnya.
6.      Seni Karawitan
Seni karawitan yang dapat dinikmati dari lagu-lagunya yang etis dan estetis. Seni karawitan merupakan pengiring lagu yang harmonis, laras dan anggun untuk lakon yang dipergelarkan ki dalang. Peranan gamelan sangat penting dalam parkeliran atau pergelaran wayang, terlebih dengan tuntutan suasana khidmat, nges, harmonis serta luhur merupakan perpaduan dari peran gamelan, kandha (dialog) seta suluk (pengucapan ki dalang tentang situasi cerita) menjadi sangat penting. Sebagai contoh penggambaran suasana dari tiap adegan dalam pergelaran wayang kulit Purwa Jawa Tengah ialah pathet yang dibagi dalam tiga bagian, yaitu: pathet nem (6) dengan iringan gamelan ahtara pukul 21.00-24.00; pathet sanga (9) dengan iringan gamelan antara pukul 00.00-03.00; pathet manyura antara pukul 03.00-06.00. Bagian pertama menggambarkan suasana netral, bagian kedua menunjukkan suasana yang agak tegang dan bagian ketiga menunjukkan suasana yang telah berubah menjadi dinamik yang menuntut penyelesaian.
7.      Seni Gaya
Seni gaya yang dapat dilihat dari gerak dan gaya wayang hasil pantulan sinar lampu atau blencong yang dapat memberikan nafas kehidupan dari setiap pelakunya. Dari seni gaya tersebut dapat kita lihat adanya berbagai macam gaya, yang dalam seni pewayangan disebut gaya sabetan, gaya seni rupa wayang dan gaya pergelaran.
a.      Gaya sabetan
Menunjukkan suatu kreativitas atau sanggit sang dalang dalam memainkan wayangnya.
b.      Gaya seni rupa wayang
Menunjukkan bentuk wayang yang berlainan ornament serta tinggi-rendahnya wayang, antara lain gaya Yogyakarta, gaya Surakarta, gaya Banyumas dan gaya Cirebon.
c.       Gaya pergelaran
Pada wayang kulit Purwa (Jawa), yang lazim disebut gagrak, antara lain: gagrak Ngayogyakarta Hadiningrat (Yogyakarta), gagrak Kasunanan (Surakarta), gagrak Jawa Timuran, gagrak Banyumasan dan gagrak Cirebonan atau gagrak pesisiran (daerah pantai utara antara Cirebon dan Semarang)
8.      Seni Pertunjukan
Orang Jawa paling sedikit mengenal enam macam pertunjukan wayang, antara lain:
a.      Wayang Purwa
Wayang Purwa merupakan salah satu pertunjukan wayang yang paling terkenal dan masih sangat digemari sampai saat ini. Tekniknya telah banyak berubah dari suatu kesenian rakyat menjadi kesenian Kraton. Jalan cerita Wayang Purwa diambil dari Serat Rama (Ramayana) dan Bharatayudha (Mahabharata). Bentuk wayang ini adalah pipih berdimensi dan dibuat dari kulit yang ditatah, dengan lengan yang dapat digerak-gerakkan. Wayang digerakkan sedemikian rupa sehingga menimbulkan bayangan pada suatu layar putih yang dipasang di depan dalang.
b.      Wayang Gedhog
Wayang Gedhog juga menggunakan boneka-boneka yang dibuat dari kulit yang pipih dan ditatah, tetapi jalan cerita yang diambil berasal dari epos panji yang berasal dari daerah Asia Tenggara. Wayang ini kurang digemari oleh orang Jawa, meskipun teknik permainannya hampir sama dengan ringgit purwa.
c.       Wayang Golek
Wayang Golek dimainkan dengan boneka-boneka kayu dalam bentuk tiga dimensi, jenis ini lebih disukai daripada wayang Gedhog, dan cerita-ceritanya diambil dari cerita Menak.
d.      Wayang Klithik atau Krucil
Wayang Klithik atau Krucil menggunakan boneka-boneka kayu yang berbentuk pipih, dengan lengan-lengan yang terbuat dari kulit. Sumber cerita didasarkan pada cerita-cerita Panji. Seni ini sampai sekarang sudah hampir tidak pernah lagi terdengar beritanya.
e.       Wayang Beber
Wayang Beber adalah suatu bentuk pertunjukan wayang yang hampir hilang. Wayang beber ini teknik pertunjukannya berfokus pada seorang tukang cerita yang menceritakan secara panjang lebar dongeng dari gambar-gambar yang ada pada sehelai kain, kulit atau kertas panjang yang digulung di kedua sisinya pada dua batang kayu. Pada bentuk pertunjukan ini juga ada orkes gamelan yang mengiringinya.
f.       Wayang Madya
Wayang Madya adalah suatu kategori dari semua jenis pertunjukan wayang berdasarkan syair-syair kepahlawanan abad ke-19, atau berdasarkan kreasi baru yang mengisahkan peristiwa-peristiwa di abad 20. Ada yang berwujud wayang Kuluk, wayang Dupara, wayang Suluh (sejarah kontemporer Indonesia, termasuk revolusi Indonesia) dan wayang Wahana (mengenai kehidupan dan masalah sosial sehari-hari).







Sumber:
Menyimak Budaya Jawa Tengah (1995), Depdikbud Provinsi Jawa Tengah
Pratinimba Adhiluhung (1988), Penerbit Djambatan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar